Mycoplasmosis pada Unggas

Di industri perunggasan, kita tentu sepakat bahwa Mycoplasma gallisepticum (MG) adalah “musuh dalam selimut” yang paling persisten. MG merupakan penyebab utama Chronic Respiratory Disease (CRD) atau yang akrab disebut “Ngorok” oleh peternak, baik itu broiler ataupun layer. Penyakit ini sangat krusial bagi manajemen layer karena sekali terinfeksi, ayam akan menjadi pembawa (carrier) seumur hidup, yang terus-menerus menggerus efisiensi pakan dan persistensi produksi telur.

Berikut adalah detail teknis MG untuk materi edukasi atau referensi klinis Anda:


1. Karakteristik Agen: “Si Bakteri Tanpa Dinding”

MG bukanlah bakteri biasa; ia termasuk kelas Mollicutes.

  • Tanpa Dinding Sel: MG tidak memiliki dinding sel (peptidoglikan).
    • Implikasi Klinis: Bakteri ini kebal (resisten alami) terhadap antibiotik golongan Penicillin atau Cephalosporin yang bekerja merusak dinding sel.
  • Afinitas Saluran Napas: MG memiliki struktur “tip organelle” yang memungkinkannya menempel sangat kuat pada sel epitel trakea dan kantung udara (air sacs).

2. Gejala Klinis: Chronic Respiratory Disease (CRD)

Gejala MG pada ayam petelur sering kali bersifat kronis dan perlahan:

  • Ngorok (Rales): Suara pernapasan yang jelas terdengar, terutama pada malam hari saat suasana tenang.
  • Konjungtivitis: Mata berair dan berbusa.
  • Penurunan Konsumsi Pakan: Akibat rasa tidak nyaman pada saluran napas.
  • Gangguan Produksi: Penurunan Hen Day Production (HDP) sebesar 5–15% dan peningkatan jumlah telur afkir.

3. Penularan: Jalur Vertikal & Horisontal

MG sangat berbahaya karena kemampuannya menembus sistem reproduksi:

  1. Transovarial (Vertikal): Induk yang terinfeksi akan menurunkan MG ke dalam telur (DOC sudah membawa bibit penyakit).
  2. Kontak Langsung (Horisontal): Melalui bersin (aerosol), air minum, pakan, atau peralatan yang terkontaminasi kotoran hidung.

4. Kompleksitas Penyakit: Masalah “Double-Hit”

MG jarang berdiri sendiri di lapangan. Penyakit ini sering menjadi pintu masuk bagi masalah yang lebih besar:

  • CCRD (Complex CRD): Sering kali MG berkomplikasi dengan bakteri E. coli. Inilah yang menyebabkan peradangan hebat pada kantung udara (Airsacculitis), hati (Perihepatitis), dan jantung (Pericarditis).
  • Interaksi Viral: Infeksi MG akan memperparah reaksi pasca-vaksinasi (seperti vaksin ND/IB aktif) dan meningkatkan kerentanan terhadap AI atau ILT.

5. Strategi Pengendalian Efektif

A. Pemilihan Antibiotik yang Tepat

Karena MG tidak memiliki dinding sel, gunakan antibiotik yang bekerja pada sintesis protein bakteri:

  • Macrolides: Tylosin, Tilmicosin, Erythromycin.
  • Fluoroquinolones: Enrofloxacin, Norfloxacin.
  • Tetracyclines: Oxytetracycline, Chlortetracycline.
  • Pleuromutilins: Tiamulin (sangat efektif untuk mycoplasma).

B. Peran Vitamin B-Kompleks Pasca-Pengobatan

Setelah pengobatan antibiotik (terutama golongan keras seperti Quinolone atau Sulfa), metabolisme ayam sering kali terganggu.

  • Fungsi: Vitamin B-Kompleks membantu pemulihan stamina seluler dan memperbaiki nafsu makan yang sempat drop selama masa sakit “ngorok”.
  • Pesan Edukasi: “Obat mematikan bakteri, tapi Vitamin membangun kembali kekuatan ayam.”

C. Biosekuriti & Manajemen

  • Kepadatan & Amonia: MG sangat menyukai kondisi amonia tinggi. Pastikan ventilasi lancar agar mukosa trakea tidak rusak oleh gas amonia.
  • Sumber DOC: Pastikan membeli DOC dari Breeder yang memiliki status “MG-Free” (bebas MG secara vertikal).

Demikian referensi tentang penyakit ngorok pada Unggas. Sukses selalu…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *