GARUDA Quotes #003 “Mengobati adalah sebuah keterampilan. Mencegah adalah sebuah sistem.”
Pernahkah kita menyadari bahwa sebagian besar aktivitas di peternakan baru dimulai ketika sesuatu sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya?
Produksi telur tiba-tiba turun.
Ada ternak yang mulai batuk.
Angka kematian meningkat.
Konsumsi pakan menurun.
Barulah dilakukan pemeriksaan.
Barulah dicari penyebabnya.
Barulah dokter hewan dihubungi.
Barulah dilakukan tindakan.
Pertanyaannya bukan apakah tindakan tersebut salah. Dalam banyak kasus, tindakan tersebut memang diperlukan.
Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting.
Mengapa kita baru bergerak setelah masalah muncul?
Budaya “Pemadam Kebakaran”
Dalam dunia manajemen dikenal istilah firefighting, yaitu kebiasaan menghabiskan sebagian besar waktu untuk memadamkan masalah yang sudah terjadi.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di peternakan. Hampir semua organisasi pernah mengalaminya.
Bedanya, di peternakan dampaknya sering kali jauh lebih mahal.
Seekor ternak yang sakit mungkin masih bisa diobati.
Namun satu wabah dapat menyebabkan penurunan produksi, meningkatnya biaya pengobatan, bertambahnya beban kerja, hingga hilangnya kepercayaan pelanggan.
Ironisnya, semakin sering sebuah peternakan menghadapi kondisi darurat, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk melakukan pencegahan.
Semua energi habis untuk menyelesaikan masalah hari ini.
Tidak ada waktu untuk membangun sistem agar masalah serupa tidak terulang.
Mengapa Hal Ini Terjadi?
Sebagian besar peternak sebenarnya tidak ingin menghadapi wabah.
Tidak ada dokter hewan yang berharap ternak menjadi sakit.
Lalu mengapa pola ini terus berulang?
Karena sejak lama kita terbiasa mengukur keberhasilan dari kemampuan menyelesaikan masalah.
Dokter hewan dipuji ketika berhasil menyelamatkan kasus yang sulit.
Peternak merasa lega ketika wabah berhasil dikendalikan.
Obat yang efektif menjadi perbincangan.
Namun sangat jarang ada yang memberikan apresiasi ketika sebuah peternakan berhasil melewati satu tahun tanpa kejadian penyakit yang berarti.
Padahal keberhasilan tersebut justru menunjukkan bahwa sistem pencegahannya bekerja.
Dalam banyak situasi, keberhasilan pencegahan tidak terlihat karena memang tidak ada krisis yang terjadi.
Ketika Data Tidak Pernah Bicara
Bayangkan dua peternakan ayam petelur.
Peternakan pertama hanya mencatat produksi ketika terjadi penurunan.
Peternakan kedua mencatat konsumsi pakan, produksi telur, mortalitas, suhu kandang, kualitas air, dan berbagai indikator lainnya setiap hari.
Saat produksi mulai turun 2%, peternakan kedua segera melakukan evaluasi.
Mereka menemukan adanya perubahan kualitas air minum dan segera melakukan perbaikan.
Produksi kembali normal beberapa hari kemudian.
Sementara itu, peternakan pertama baru menyadari masalah ketika produksi turun lebih dari 10%.
Pada saat itu, kerugian sudah terjadi.
Perbedaannya bukan pada kecerdasan peternaknya.
Perbedaannya adalah kemampuan sistem untuk mendeteksi perubahan lebih awal.
Dokter Hewan Bukan Sekadar “Pemadam Kebakaran”
Selama bertahun-tahun, profesi dokter hewan sering kali dipersepsikan sebagai pihak yang datang ketika ternak sudah sakit.
Padahal peran dokter hewan jauh lebih luas daripada itu.
Dokter hewan dapat membantu menyusun program biosekuriti.
Menganalisis tren performa.
Mengevaluasi manajemen kesehatan.
Mengidentifikasi faktor risiko.
Membangun sistem monitoring.
Melatih sumber daya manusia.
Menyusun protokol pencegahan.
Semua kegiatan tersebut dilakukan sebelum penyakit muncul.
Semakin kuat sistem pencegahan yang dibangun, semakin sedikit kondisi darurat yang harus dihadapi.
Keberhasilan dokter hewan seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah kasus yang berhasil diobati, tetapi juga dari jumlah kasus yang berhasil dicegah.
Mengubah Definisi Keberhasilan
Bayangkan sebuah peternakan yang selama satu tahun tidak pernah mengalami wabah besar.
Tidak ada berita yang menarik.
Tidak ada kondisi darurat.
Tidak ada penggunaan antibiotik secara berlebihan.
Tidak ada penurunan produksi yang signifikan.
Mungkin bagi sebagian orang, tidak ada cerita yang istimewa.
Namun sesungguhnya itulah bentuk keberhasilan yang paling sulit dicapai.
Peternakan tersebut berhasil karena sistemnya bekerja setiap hari, bahkan ketika tidak ada yang memperhatikannya.
Pencegahan memang jarang menjadi berita.
Tetapi pencegahan selalu menjadi fondasi keberhasilan jangka panjang.
Dari Reaktif Menjadi Antisipatif
Perubahan paradigma dimulai ketika kita berhenti bertanya,
“Bagaimana cara mengatasi masalah ini?”
dan mulai bertanya,
“Bagaimana cara memastikan masalah seperti ini tidak terjadi lagi?”
Pertanyaan kedua akan membawa kita pada pencatatan data.
Evaluasi rutin.
Manajemen risiko.
Biosekuriti.
Pelatihan pekerja.
Standar operasional.
Budaya disiplin.
Semuanya merupakan investasi yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi akan sangat menentukan keberlanjutan usaha.
Saatnya Mengubah Kebiasaan
Peternakan masa depan bukanlah peternakan yang paling cepat bereaksi.
Peternakan masa depan adalah peternakan yang paling siap menghadapi risiko sebelum risiko itu berubah menjadi krisis.
Karena keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita berhasil memadamkan kebakaran.
Keberhasilan sejati diukur dari seberapa jarang kebakaran itu terjadi.
Refleksi
Tidak semua masalah dapat dicegah.
Namun hampir semua masalah dapat dipersiapkan/diantisipasi.
Perbedaan antara peternakan yang tangguh dan peternakan yang rapuh sering kali bukan terletak pada besarnya tantangan yang dihadapi, melainkan pada kesiapan sistem dalam mengantisipasi tantangan tersebut.
To be Continue…
Banyak orang percaya bahwa produktivitas peternakan akan meningkat jika menggunakan obat yang lebih baik, vaksin yang lebih lengkap, atau suplemen yang lebih mahal.
Benarkah demikian?
Pada tulisan berikutnya kita akan membahas mengapa obat hanyalah alat, sedangkan manajemen adalah penentu hasil.
GARUDA Quotes #004 – Obat Tidak Akan Pernah Menggantikan Manajemen.